Obituari Hati
Belakangan ini tiap selesai merampungkan rangkaian sujud, ku selipkan doa rahasia kepada Tuhan perihal kita. Tentang bagaimana hari akan menuntun langkah kaki kecil ini menuju suatu gerbang yang belum kita tahu namanya apa. Mungkin pada hari itu, kita akan gelagapan tentang suatu rasa yang dengan pandainya kita pendam sekian lama. Kita akan kikuk dan tersenyum canggung tidak karuan atau mungkin kita akan berpura-pura tegar padahal kalutnya hati seperti dihujam tsunami. Sampai hari itu tiba, mungkin kita akan terus mengulur waktu dengan berbagai kalimat pertanyaan yang sudah saling kita tahu jawabannya, namun mendengarnya lagi seperti sebuah keharusan. Jawaban pertanyaan itu kita putar kembali dalam relung, berulang-ulang sampai terbawa mimpi. Namun pada akhirnya, kita selalu kalah dengan ragu. Kita terlalu banyak berpikir tentang masa di mana kita akan saling menyakiti. Atau tentang masa lalu yang pernah menggerogoti kita begitu ganasnya. Juga tentang banyak hal lain ...