Obituari Hati

Belakangan ini tiap selesai merampungkan rangkaian sujud, ku selipkan doa rahasia kepada Tuhan perihal kita. Tentang bagaimana hari akan menuntun langkah kaki kecil ini menuju suatu gerbang yang belum kita tahu namanya apa. Mungkin pada hari itu, kita akan gelagapan tentang suatu rasa yang dengan pandainya kita pendam sekian lama. Kita akan kikuk dan tersenyum canggung tidak karuan atau mungkin kita akan berpura-pura tegar padahal kalutnya hati seperti dihujam tsunami.

Sampai hari itu tiba, mungkin kita akan terus mengulur waktu dengan berbagai kalimat pertanyaan yang sudah saling kita tahu jawabannya, namun mendengarnya lagi seperti sebuah keharusan. Jawaban pertanyaan itu kita putar kembali dalam relung, berulang-ulang sampai terbawa mimpi. Namun pada akhirnya, kita selalu kalah dengan ragu.

Kita terlalu banyak berpikir tentang masa di mana kita akan saling menyakiti. Atau tentang masa lalu yang pernah menggerogoti kita begitu ganasnya. Juga tentang banyak hal lain yang ditakuti akan mengubah cara pandang kita terhadap satu sama lain. Kita terlalu memanjakan keraguan sehingga ia berbuat seenaknya.

Pada hari itu ketika aku melihat wajahmu dari jauh, kuharap kita saling melempar senyum, lalu kau akan bersikeras membahagiakanku, begitupun sebaliknya. Kita akan terlarut pada hal yang sebelumnya mustahil dilakukan. Kita akan saling tertawa pada hal konyol yang tak ada hentinya diperdebatkan. Terkadang kita akan bertengkar karena aku si pelupa atau kau si pemalas, namun kemudian kita akan sama-sama mengalah dan kembali berbagi peluk.

Namun, jika Tuhan menggariskan jalan berbeda, kuharap jiwa kita sudah cukup lapang untuk menerimanya. Kita akan memutuskan untuk tidak memupuk penyesalan atau kedengkian. Lalu kau akan ingatkanku pada banyak tulisan indah tentang perpisahan, bagaimana melihatnya dari sudut pandang berbeda. Aku yang sedari awal selalu takjub pada petuahmu akan rela ditinggalkan bersama surat yang kau tulis dengan bijak berisi rasa terima kasih. Ya, itu jika pada akhirnya kita hanya bisa saling bersyukur akan garis hidup yang pernah bersinggungan, dan memberikan ucapan selamat pada keraguan yang merayakan kemenangan dengan tamaknya.

Namun sebelum waktu itu benar-benar datang, dan kuharap tidak akan pernah datang, semoga kita akan terus berusaha meniti jalan kecil rapuh di depan ini, yang meskipun sukar, berlubang, banyak lumpur dan kubangan, namun kita arungi dengan derai tawa sambil menggenggam harap untuk segera bertemu dengan kemudahan. Di situ juga kusisipkan doa yang teramat dalam, agar hatimu selalu teguh bersamaku, siap menerima segala cacatku, pun turut bahagia akan segala lebihku.

Kau juga pasti tahu betul bahwa mudah bagiku untuk menjadikanmu yang paling berarti. Segala baik-burukmu telah kukagumi sejak lama bahkan ketika kau belum hapal jalan ke rumahku. Masa lalumu yang getir, kekecewaan dan segala hal yang membuatmu merasa rendah diri rasanya ingin kumasukkan ke dalam karung dan kubuang ke laut Jakarta biar terurai dengan limbah yang melegam lalu tenggelam.

Meski aku tidak pandai berjanji akan hal sentimentil, namun dengan bantuan Tuhan Maha Pengabul Doa, menjadikanmu makhluk paling bermakna dalam hidupku adalah hal mudah bagi-Nya. Begitupun tentang kita dan semua harapan di masa mendatang. Tak hanya mengabulkan, membuatnya jauh lebih indah-pun hanya perkara kun-fayakun jika Tuhan berkehendak. Maka sampai saat itu tiba, kumohon bertahanlah.

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief

Rindu