Sebuah Apresiasi untuk Diri Sendiri
Kau selalu percaya teh hijau dan perasan jeruk lemon yang kau nikmati tiap hari bisa menetralisir santan nasi uduk yang sebelumnya kau santap dengan lahap. Kau sadar hidup penuh dengan ketidakpastian akan senang dan sedih, sehat dan sakit, namun seperti pohon oak, kau tetap tegak berdiri mengamini nasib. Begitulah kau setiap harinya, kadang mengeluh karena lelah namun lebih sering menutupinya dengan tertawa melihat video lucu di media sosial, seolah tawa itu jadi bumerang untuk diri sendiri sebab hidup selalu mengajakmu bercanda dan mengolokmu tanpa jeda. Kau mudah menangis karena menonton film tentang keluarga, atau ketika melihat kakek tua berjalan tertatih karena memikul dagangannya, lantas kau sering tidak peduli apabila kau sendiri yang tersakiti. Kau pandai mengelabui rasa sedihmu, tapi kau tidak pandai mengestimasi waktu, mau sampai kapan seperti itu? Padahal, sesekali menangisi takdirmu sebelum tidur sah-sah saja. Kau selalu menghargai tiap interaksi, kau senang memulai ...