Posts

Showing posts from December, 2019

Sebuah Apresiasi untuk Diri Sendiri

Kau selalu percaya teh hijau dan perasan jeruk lemon yang kau nikmati tiap hari bisa menetralisir santan nasi uduk yang sebelumnya kau santap dengan lahap. Kau sadar hidup penuh dengan ketidakpastian akan senang dan sedih, sehat dan sakit, namun seperti pohon oak, kau tetap tegak berdiri mengamini nasib. Begitulah kau setiap harinya, kadang mengeluh karena lelah namun lebih sering menutupinya dengan tertawa melihat video lucu di media sosial, seolah tawa itu jadi bumerang untuk diri sendiri sebab hidup selalu mengajakmu bercanda dan mengolokmu tanpa jeda. Kau mudah menangis karena menonton film tentang keluarga, atau ketika melihat kakek tua berjalan tertatih karena memikul dagangannya, lantas kau sering tidak peduli apabila kau sendiri yang tersakiti. Kau pandai mengelabui rasa sedihmu, tapi kau tidak pandai mengestimasi waktu, mau sampai kapan seperti itu? Padahal, sesekali menangisi takdirmu sebelum tidur sah-sah saja. Kau selalu menghargai tiap interaksi, kau senang memulai ...

Terima Kasih

Mungkin di satu waktu yang senyap, kamu akan teringat tentang air seduhan mie instan yang mengepul karena pelan-pelan kita tiup, sembari sesekali menyeruput mie yang sengaja kita makan perhelai agar semakin lama habisnya. Kamu akan teringat tentang malam sunyi yang meskipun hanya diiringi oleh suara mesin pencetak kertas dan langkah kaki pengunjung, namun terasa gegap gempita oleh pembicaraan kita tentang masa depan. Di satu sore yang mendung, tanpa disengaja kamu akan memutar lagu yang pernah kita dengar bersama dalam diam karena lirik yang terlampau dalam. Lalu, kamu sadar pernah ada waktu dimana kamu menceritakan kisah sedih yang tidak pernah kamu ceritakan ke orang lain, serta mimpimu yang tinggi namun terlalu malu untuk kamu perjuangkan. Mungkin hari ini kamu akan ingat, tentang terima kasih yang kamu sematkan padaku berulang kali, perihal rahasiamu yang kujaga dengan erat, atau keluhmu yang kudengar dengan cermat. Mungkin esok, kamu tidak akan lupa bagaimana ...

Tumpah

Hubungan antar manusia itu lucu. Bagaimana bisa semangkuk sup iga bisa membuat emosiku tumpah sampai menangis tersedu-sedan di  pagi hari. Ibuku dengan lemasnya hanya bisa bilang "sudah, nggak apa, jangan nangis" yang malah membuatku semakin menjadi, seperti anak bayi yang tidak bisa menumpahkan keluh kesahnya kecuali dengan menangis. Tangisan itu mungkin luapan emosiku setahun ke belakang. Setelah mencoba bersandiwara terlihat baik-baik saja di depan banyak orang dan selalu mendoktrin diri bahwa lelah yang dipikul sendiri ini akan berubah menjadi kebahagiaan yang meletup riuh suatu saat nanti. Namun, akhirnya aku gagal. Sesungguhnya aku hanya badan rapuh yang dipaksa bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan setiap hari tanpa boleh memberi interupsi sedikitpun. Lalu, aku hanya bisa mengikuti alur, tanpa banyak respon yang ternyata diam-diam sudah menumpuk di sudut usang yang terabaikan. Sampai suatu pagi, dipicu oleh sisa semangkuk sup iga gurih yang aku beli kemarin sor...