Sebuah Apresiasi untuk Diri Sendiri
Kau selalu percaya teh hijau dan perasan jeruk lemon yang kau nikmati tiap hari bisa menetralisir santan nasi uduk yang sebelumnya kau santap dengan lahap. Kau sadar hidup penuh dengan ketidakpastian akan senang dan sedih, sehat dan sakit, namun seperti pohon oak, kau tetap tegak berdiri mengamini nasib. Begitulah kau setiap harinya, kadang mengeluh karena lelah namun lebih sering menutupinya dengan tertawa melihat video lucu di media sosial, seolah tawa itu jadi bumerang untuk diri sendiri sebab hidup selalu mengajakmu bercanda dan mengolokmu tanpa jeda.
Kau mudah menangis karena menonton film tentang keluarga, atau ketika melihat kakek tua berjalan tertatih karena memikul dagangannya, lantas kau sering tidak peduli apabila kau sendiri yang tersakiti. Kau pandai mengelabui rasa sedihmu, tapi kau tidak pandai mengestimasi waktu, mau sampai kapan seperti itu? Padahal, sesekali menangisi takdirmu sebelum tidur sah-sah saja.
Kau selalu menghargai tiap interaksi, kau senang memulai pembicaraan dengan orang, dengan ibu-ibu di gerbong kereta, dengan satpam kampus bahkan anak sd yang ada di satu antrean denganmu. Kau percaya ada keindahan tersendiri ketika berinteraksi dengan orang lain. Lalu, ada saat kau suka menyendiri, berkeliling mal dan menonton film di bioskop tanpa berdiskusi dengan orang lain, atau sekadar melihat sekitar, ayah dan anak yang bersenda gurau, baliho usang yang seolah berharap masih dilihat, palang kereta yang sudah reyot atau pedagang kaki lima yang semangat dan kulitnya sama-sama terbakar.
Kau tidak membutuhkan validasi orang lain, atas apapun yang ada pada dirimu. Kau merasa nyaman dengan pakaian yang sudah bertahun kau pakai, sepatu yang sudah lusuh namun masih berfungsi baik, tas selempang dengan ristleting yang mulai macet atau ponsel murah yang kau beli dengan uang THR kantormu. Kau tetap bisa menjalani hidup dengan versi terbaikmu.
Dibalik tulisan berantakan ini, aku hanya ingin mengingatkan betapa berharganya kau di dunia. Bagaimana kau bisa bertahan atas realita yang kejam bak Ibu tiri Lala, tapi kau masih bisa menertawainya seperti menonton film original Warkop DKI. Lantas, ketika suatu saat kau berada di titik terendah lagi, aku mohon untuk sesekali mengunjungi tulisan ini dan kemudian bangkit kembali.
Kau selalu menghargai tiap interaksi, kau senang memulai pembicaraan dengan orang, dengan ibu-ibu di gerbong kereta, dengan satpam kampus bahkan anak sd yang ada di satu antrean denganmu. Kau percaya ada keindahan tersendiri ketika berinteraksi dengan orang lain. Lalu, ada saat kau suka menyendiri, berkeliling mal dan menonton film di bioskop tanpa berdiskusi dengan orang lain, atau sekadar melihat sekitar, ayah dan anak yang bersenda gurau, baliho usang yang seolah berharap masih dilihat, palang kereta yang sudah reyot atau pedagang kaki lima yang semangat dan kulitnya sama-sama terbakar.
Kau tidak membutuhkan validasi orang lain, atas apapun yang ada pada dirimu. Kau merasa nyaman dengan pakaian yang sudah bertahun kau pakai, sepatu yang sudah lusuh namun masih berfungsi baik, tas selempang dengan ristleting yang mulai macet atau ponsel murah yang kau beli dengan uang THR kantormu. Kau tetap bisa menjalani hidup dengan versi terbaikmu.
Dibalik tulisan berantakan ini, aku hanya ingin mengingatkan betapa berharganya kau di dunia. Bagaimana kau bisa bertahan atas realita yang kejam bak Ibu tiri Lala, tapi kau masih bisa menertawainya seperti menonton film original Warkop DKI. Lantas, ketika suatu saat kau berada di titik terendah lagi, aku mohon untuk sesekali mengunjungi tulisan ini dan kemudian bangkit kembali.
Comments
Post a Comment