Tumpah

Hubungan antar manusia itu lucu. Bagaimana bisa semangkuk sup iga bisa membuat emosiku tumpah sampai menangis tersedu-sedan di  pagi hari. Ibuku dengan lemasnya hanya bisa bilang "sudah, nggak apa, jangan nangis" yang malah membuatku semakin menjadi, seperti anak bayi yang tidak bisa menumpahkan keluh kesahnya kecuali dengan menangis.

Tangisan itu mungkin luapan emosiku setahun ke belakang. Setelah mencoba bersandiwara terlihat baik-baik saja di depan banyak orang dan selalu mendoktrin diri bahwa lelah yang dipikul sendiri ini akan berubah menjadi kebahagiaan yang meletup riuh suatu saat nanti. Namun, akhirnya aku gagal. Sesungguhnya aku hanya badan rapuh yang dipaksa bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan setiap hari tanpa boleh memberi interupsi sedikitpun. Lalu, aku hanya bisa mengikuti alur, tanpa banyak respon yang ternyata diam-diam sudah menumpuk di sudut usang yang terabaikan.

Sampai suatu pagi, dipicu oleh sisa semangkuk sup iga gurih yang aku beli kemarin sore, aku -lagi-lagi- dikecewakan oleh orang terdekat. Saking marahnya aku sampai menangis di depan Ibu, orang yang paling tidak ingin aku tunjukkan air mata sedihku, aku gagal.

Namun, beberapa saat setelah puas menumpahkan semua kegetiran itu, timbul kelegaan. Mungkin, memang inilah yang aku butuhkan. Menangis sekerasnya dan teriakkan semua emosi yang terpendam. Mungkin, aku memang butuh belajar untuk berhenti bersandiwara dan mulai meyakini diri bahwa hidup tidak melulu tentang bahagia, kadang hidup tidak memberi pilihan selain memeluk rasa luka, sambil menunggu bahagia datang lagi, di suatu waktu yang entah kapan.

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief

Rindu