Terima Kasih
Mungkin di satu waktu yang senyap, kamu akan teringat tentang air seduhan mie instan yang mengepul karena pelan-pelan kita tiup, sembari sesekali menyeruput mie yang sengaja kita makan perhelai agar semakin lama habisnya.
Kamu akan teringat tentang malam sunyi yang meskipun hanya diiringi oleh suara mesin pencetak kertas dan langkah kaki pengunjung, namun terasa gegap gempita oleh pembicaraan kita tentang masa depan.
Di satu sore yang mendung, tanpa disengaja kamu akan memutar lagu yang pernah kita dengar bersama dalam diam karena lirik yang terlampau dalam.
Lalu, kamu sadar pernah ada waktu dimana kamu menceritakan kisah sedih yang tidak pernah kamu ceritakan ke orang lain, serta mimpimu yang tinggi namun terlalu malu untuk kamu perjuangkan.
Mungkin hari ini kamu akan ingat, tentang terima kasih yang kamu sematkan padaku berulang kali, perihal rahasiamu yang kujaga dengan erat, atau keluhmu yang kudengar dengan cermat.
Mungkin esok, kamu tidak akan lupa bagaimana aku mengucap salam terakhir dengan rekahan senyum di wajahku, yang kamu sambut dengan candaan jayus serta doa tulus.
Satu yang kamu tidak akan ingat, sebab aku terlalu naif untuk mencari cara agar kamu bisa tahu, yaitu tentang rasa syukurku atas singgahmu yang singkat namun begitu melekat.
Terima kasih.
Terima kasih.
Comments
Post a Comment