Grief
Ada sebuah kisah tentang waktu. Betapa ia begitu berharga ketika sudah terlewati, namun sering disia-siakan ketika dijalani. Berulang kali Allah berfirman dalam Alqur'an tentang betapa meruginya manusia dalam menggunakan waktu, namun kerap kali kita lalai dan meremehkannya hingga menyesal kemudian.
Saat ini sudah memasuki tahun 2022, lebih dari setahun sejak terakhir saya membuat tulisan di blog ini. Dan sejak itu, terlalu banyak perubahan terjadi dalam hidup saya. Tiap detiknya terasa begitu padat sampai saya tidak dapat membuka blog hanya untuk sekadar bersantai dan menuangkan pikiran.
Dimulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, positif Covid 19, hingga meninggalnya kedua orang tua tercinta. Semua terjadi dalam kurun waktu kurang dari setahun, yang membuat fisik dan mental saya berada dalam titik terendah seumur hidup.
'Yaa Allah, berat sekali.' sering saya ucapkan dalam hati.
Terasa kian berat menjelang masa-masa persalinan. Tidak pernah terbayang di pikiran saya, akan mendapatkan nasib ditinggalkan seorang ibu kandung ketika saya akan menjadi seorang ibu. Apalagi mengingat almarhumah mama sangat menantikan cucu pertamanya. Betapa saya ingat beberapa minggu sebelum musibah datang, ia sudah menyiapkan baju hamil untuk saya, bahkan sudah memikirkan banyak hal terkait persalinan nanti. Ketika itu saya merasa spesial. Rasanya morning sickness yang saya alami tidak sebanding dengan rasa kegembiraan orang tua akan kehamilan saya. Saya merasa utuh.
Namun, manusia hanya bisa berencana. Sekarang saya menyiapkan semua tanpa kehadiran mama. Saya harus menghadapi kebingungan dan kecemasan ini tanpa seseorang yang sudah menjadi support system saya seumur hidup. Saya merasa tidak spesial lagi. Tidak ada yang bergembira akan setiap hal kecil yang sudah saya capai. Tidak ada yang mendukung saya secara tulus seperti yang mama lakukan dulu. Saya tidak utuh lagi.
Namun setelah kesedihan ditinggalkan orang tua, dijauhi beberapa orang terdekat, dan kekecewaan lain dalam hidup, saya jadi sadar bahwa Allah-lah yang tidak pernah meninggalkan saya. Tiap saya menangis usai sholat, seolah Allah langsung menenangkan jiwa saya, memastikan semua akan baik-baik saja, dan saya bisa melewati ini semua meski keadaannya tidak sama lagi. Saya hanya perlu memerangi semua perasaan tidak enak yang saya alami saat ini, 'saya bisa, saya kuat' itu yang lebih sering saya ucapkan dalam hati sekarang. Saya bisa dan saya kuat, meski tanpa kasih sayang orang tua lagi.
Comments
Post a Comment