Temporary Part I

Kau bilang "Jangan menaruh harap padaku." singkat dan jelas.
Aku hanya bisa terdiam bingung sambil menatap kosong ke jalan besar dengan banyak kendaraan berlalu-lalang yang klaksonnya tak henti bersautan.
Isi pikiranku sama kalutnya dengan keadaan jalan itu, mungkin sedikit lebih kacau karena tidak ada lampu merah yang mencoba menertibkan, bahkan marka jalannya sudah pudar, jadi di dalam kepalaku ini seperti sedang terjadi tabrakan beruntun namun tidak ada warga yang dapat gotong-royong menolong.

"Kenapa?" Tanyaku singkat dengan suara bergetar.
Kini kau yang terdiam lama sambil menunduk, padahal aku sudah siap dengan segala jawaban memilukan yang akan kudengar, meskipun menerima dan memprosesnya dengan baik belum tentu bisa kulakukan.

Kau masih menunduk, mungkin sedang menyiapkan jawaban terbaik agar ketika pulang nanti aku tidak menangis di jalan. Namun sebelum kau sempat membuka mulut, aku dengan tegas berkata,
"Aku bersyukur dengan keadaan kita sekarang. Kau tidak perlu khawatir tentang masa depan."
Sisi sok tegar dalam diriku mulai bersifat semena-mena lagi, ia seolah menengahi pembicaraan dua orang dewasa seperempat abad yang saling kikuk dan ragu hanya untuk mengungkapkan perasaan satu sama lain.

Kau tertegun dengan jawabanku dan mengalihkan pandangan ke sudut persimpangan jalan yang sedang ramai oleh gerombolan anak muda bermain skateboard, mereka tertawa lepas tanpa beban seolah dunia ada di genggaman. Aku tahu pikiranmu pun kalut akan hal yang belum pasti. Hal-hal seperti beranjak dewasa dan tanggung jawab seringkali mengharuskan kita mengesampingkan apa yang betul-betul membuat kita bahagia.

Mungkin sekarang kau sedang membayangkan apabila kita ada di usia anak muda itu, akankah kita berada dalam perbincangan ini? Perbincangan yang alot namun bikin pusing sampai kita harus mengabaikan mie ayam terenak di kota ini.

"Aku takut bikin kamu kecewa."

Kau berucap lirih, sambil menatap raut wajahku yang mulai berubah sendu dengan tatapan agak kosong seperti sedang dihipnosis. Kau pasti berpikir banyak gemuruh di kepalaku, terlalu riuh sampai otak ini tak mampu memerintahkan mata untuk bergeming.

Namun anehnya, yang kurasa tidak seperti itu. Dibanding gemuruh, aku lebih merasa seperti diterpa semilir angin sore agak mendung yang sejuknya damai tak menyakitkan, tidak peduli setelahnya hujan rintik atau badai sekalipun.

'Aku takut bikin kamu kecewa' kalimat itu kuulang berkali dalam hati, semakin kuulang malah buatku semakin tenang. Ingatanku langsung tertuju pada waktu lampau di mana kita belum sedekat ini. Saat duduk berdua sambil berhadapan denganmu hanyalah sebuah kemustahilan. Di waktu itu, entah doa apa yang kupanjatkan hingga bisa membawa kita ke hari ini.

"Aku tidak bisa memastikan perihal masa depan, terutama yang berkaitan dengan perasaan, entah nanti aku kecewa padamu, atau sebaliknya, entah kita saling bahagia, atau malah saling mendendam, aku tidak tahu. Usiaku sudah cukup tua untuk berandai tentang sesuatu yang tidak pasti." Jawabku.
.
".... Tapi aku tahu satu yang pasti. Yaitu keberadaan kita untuk satu sama lain saat ini. Kamu tahu tidak? Waktu berhargamu yang kamu sisihkan padaku tiap minggu, yang meskipun hanya kita habiskan untuk makan bubur ayam, jalan santai atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul adalah hal terbaik yang kurasakan di tengah waktu sulit ini. Pernah ada kekhawatiran dalam diriku 'kira-kira kapan ini berakhir?' 'kira-kira kapan kita akan berhenti bertemu tiap minggu?' 'apakah aku atau kau yang akan menyakiti duluan?' Banyak sekali skenario buruk yang telah kupikirkan, yang malah membuatku demam dan sakit kepala, padahal itu semua belum tentu terjadi. Jadi, dibanding pusing memikirkan masa depan yang terlalu abstrak, setidaknya untuk sekarang, cukup berterimakasihlah dulu atas keberadaan kita untuk satu sama lain ini."

Aku terdiam sejenak dan melanjutkan "....Aku paham banyak keraguan dalam dirimu, yang tidak kutahu pasti itu apa, namun aku juga tak punya nyali untuk menanyakannya. Tapi dalam proses ini, justru aku belajar banyak dari ketidakpastian. Aku jadi mengerti bagaimana cara kerja kehidupan, bahwa pemikiran dan perasaan manusia yang dinamis bisa menuntun pada suatu realita temporer yang membuat hal-hal seperti harapan atau ekspektasi nampak semakin remeh di mata kita. Iya, kan?
Dan pembatas realita temporer itu adalah waktu, aku paham. Jadi, izinkan aku untuk menikmati saat ini dulu, sambil aku rayu Tuhan untuk segera memberikan jalan terbaik bagi kita, boleh?"
 
Aku memintamu dengan hati-hati.
Lalu kau mengangguk dan tersenyum, meski masih sedikit sendu.
 
Kau mengisyaratkan kata terima kasih tanpa suara sambil kulihat pantulan diriku di matamu yang tampak berkaca-kaca. Aku tahu hatimu lembut, meski ragamu seperti beton kokoh yang tak kenal lelah. Aku tahu banyak beban di jiwamu yang tak bisa kau jabarkan, namun aku juga tahu kau orang dengan hati terkuat yang pernah kutemui. Kau jarang bicara, namun aku seperti bisa mendengar diammu yang bijaksana.

Kini aku hanya perlu belajar menempa diriku sendiri.
Untuk mempersiapkan hati ketika kehilanganmu.

(...to be continued)

Comments

Popular posts from this blog

Grief

Rindu