Rindu

Suatu ketika aku melihat salah satu campaign brand besar terkait pandemi yang mengubah hidup kita. Dikisahkan bahwa begitu banyak kesedihan dan kehilangan yang kita rasakan selama 2 tahun ini. Seketika air mataku mulai mengambang. Sudah hampir setahun ini orang tuaku, tidak hanya satu, dua-duanya, telah berpulang ke Yang Maha Kuasa akibat pandemi. Hidupku setelahnya hanya berupa kekosongan yang selalu kucoba untuk dipenuhi lagi namun selalu gagal. Kalau bukan karena Allah yang menguatkan, aku hanyalah manusia rapuh yang habiskan sisa hidup meratapi nasibnya tanpa kasih sayang orang tua.

Ma, Pak, aku rindu menjadi satu-satunya anak perempuan yang dicinta. Dimasakkan makanan kesukaannya, dibuatkan pakaian yang indah, dipeluk ketika sedih. Aku ingat betapa Mama dan Bapak selalu mengkhawatirkanku, bagaimana jika aku terluka, bagaimana jika aku disakiti, bagaimana jika aku merasa tidak nyaman, dan banyak hal lainnya seolah aku adalah mutiara yang harus selalu kalian lindungi.

Hidup tanpa kasih sayang Mama dan Bapak sungguhlah tidak mudah. Tiap hari selalu kuputar dalam memoriku akan kehangatan keluarga kita dulu. Tertawa karena hal remeh, saling memberikan perhatian, selalu makan bersama, meskipun dengan menu yang sederhana dan itu-itu saja, namun terasa mewah karena kita habiskan bersama. Kini, tiap harinya terjal dan berbatu. Aku tidak seceria dulu lagi, dan aku tidak bisa bercerita tentang isi hatiku lagi. Kini aku belajar seni memendam perasaan, karena tidak ada lagi manusia tempat paling nyaman mencurahkan isi hati, selain Mama.

Ma, Pak, tapi aku akan baik-baik saja. Meski separuh jiwaku hilang, ragaku kesakitan, aku akan selalu berusaha baik-baik saja. Aku akan mengemis kasih sayang dari orang-orang sekitarku, memeluk kebaikan mereka, meski ku tahu tidak ada lagi manusia yang bisa menandingi kasih sayang Mama dan Bapak kepadaku. 

Ma, Pak, akan kusimpan baik-baik rindu dan tangisku nanti sambil memeluk Mama dan Bapak, apabila Allah izinkan kita berkumpul lagi.

Ma, Pak, terima kasih atas segala kehangatan dan kasih sayang yang dilimpahkan kepadaku dulu. Maafkan aku sering mengecewakan.

Ma, Pak, kutitipkan selalu doa, semoga Allah sayangi Mama dan Bapak selalu, seperti Mama dan Bapak menyayangiku dulu.

Alfatihah.

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief