Perpisahan

Perpisahan.

Satu kata yang kubenci tetapi gak bisa kuhindari.
Betapa banyak perpisahan yang aku lalui selama hidup, dan betapa banyak juga air mata yang tumpah karenanya.
Saat menulis ini, hatiku masih menangisi seseorang yang baru aja keluar dari rumah.
Mba Mala namanya.
Beliau membantu keluargaku selama 3 bulan terakhir dalam pekerjaan rumah.
Setelah belasan tahun keluargaku tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga, akhirnya kami memutuskan untuk merekrut mba Mala, karena aku dan Ibu merasa agak kewalahan untuk menyeimbangkan pekerjaan rumah dan pekerjaan kami masing-masing.

Dalam hal pekerjaan rumah, mba Mala orang yang sangat apik, hampir semua sudut di rumahku dibersihkannya dengan telaten, kadang aku dan Ibu sampai bilang agar dia tidak terlalu memforsir pekerjaannya. Aku suka saat dia merapikan tempat tidurku, menata tatanan meja kecil di kamar, merapikan kabel-kabel charger, yang kadang suka aku lewatkan kalau dinas pagi. Ketika pulang kerja, hati jadi tenang, rasanya lelah yang dibawa dari tempat kerja, hilang begitu aja saat lihat kamar yang dirapikan dengan begitu detilnya. Perasaan yang baru ini aku rasakan.

Di samping etika bekerjanya, mba Mala orang yang sangat tulus. Dalam 3 bulan terakhir ini, keluargaku mengalami beberapa masa sulit, seperti Bapak yang harus dirawat seminggu lebih dan beberapa kali bolak-balik IGD dan poli syaraf. Aku yang harus menjalani tindakan operasi. Ibu-pun juga sempat sakit beberapa kali. Mba Mala selalu ada dalam masa-masa itu, dia sempat menginap di rumah, atau menunggu sampai larut malam di rumah. Hal sederhana namun bermakna yang dia tawarkan tanpa pamrih.

Pada ulang tahunku Maret lalu, mba Mala nunggu sampai aku pulang kerja, dia dan Ibu beli kue ulang tahun. Bahkan, mba Mala kasih aku kado boneka yang cukup besar. Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk membeli makanan untuk keluarganya dalam satu hari, dihabiskan hanya untukku. Waktu berharga yang seharusnya dia lewatkan dengan suami dan anak-anaknya, dihabiskan bersamaku dan keluarga seharian. Rasanya apa yang kami berikan tidak akan pernah cukup untuk membalas kebaikan yang ditanamkan mba Mala setiap harinya.

Hari ini, karena satu dan lain hal, Mba Mala berhenti bekerja.
Aku berharap ini hanya sementara dan mba Mala bisa kembali lagi memberikan kebahagiaan untuk hidup kami. Namun sepertinya untuk beberapa hari ke depan, hati ini akan murung mengingat mba Mala, ketika melihat boneka pemberiannya, sudut-sudut rumah hasil tatanannya, sambil mengingat betapa cekatannya ia memoles tiang-tiang tangga, atau ketika ia dengan semangat menyetrika sambil berdiri padahal sudah tersedia kursi di belakangnya.

Mba Mala, wanita hebat yang ditinggal keluarganya akibat tsunami Aceh, yang sedari kecil tetap kokoh berdiri sendiri di kakinya tidak peduli sekuat apapun badai menerpa.
Mba Mala, salah satu sumber inspirasi dan pembawa kebahagiaan di hidupku.

Terima kasih mba Mala, 3 bulan waktu yang singkat, tetapi kebaikan mba Mala akan selalu membekas di rumah dan hati kami selamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief

Rindu