Keluarga

Sedari kecil, aku selalu dihadapkan dengan berbagai realita kehidupan yang membuka cara pandangku tentang keluarga. Contoh nyatanya, beberapa tahun di awal kehidupan, aku lebih dekat dengan Mba yang merawatku dibanding dengan orang tua sendiri, no one's to blame, aku senang dan malah menganggap Mba sebagai ibu kedua. Kemudian, rumahku juga sudah biasa menjadi tempat tinggal keluarga yang merantau dari Padang -kampung halaman Ibu-.

Waktu itu, aku merasa bahwa aku punya banyak keluarga dan dapat banyak cinta. Kelak ketika dewasa nanti, aku tidak akan kesepian. Sampai suatu waktu, mereka pergi satu persatu, sebagian besar karena sudah memiliki keluarga baru, dan perlahan kami jarang bertemu, bahkan ada yang benar-benar tidak bisa dicari kontaknya. Padahal, mengingat kebersamaan kami dulu, rasanya sesak sekali. Tapi lagi-lagi, no one's to blame. Aku hanya keliru tentang konsep yang sedari kecil memupuk di otakku. Sekarang aku sadar bahwa beberapa kebersamaan itu memang tidak abadi. Orang yang aku anggap keluarga hari ini, mungkin tidak terasa seperti keluarga 5 tahun lagi. Atau orang yang belum aku kenal sekarang, bisa jadi yang akan menjadi keluargaku di sisa hidup nanti.

Seperti batang pohon yang selalu ditinggalkan oleh daunnya, kelak tumbuh daun baru yang akan menemaninya untuk melawan dinginnya angin dan kerasnya hujan. Sekarang-pun aku mendapat banyak orang baru di sekeliling yang keberadaannya seolah membantuku untuk lebih 'hidup'. Ingat Mba Mala di postinganku sebelumnya? Alhamdulillah dia sudah balik lagi ke rumah. Hubungan keluarga kami-pun makin erat. Ada juga beberapa tetangga yang sering memberikan banyak sekali kasih sayang dan perhatian buat aku, Ibu, Bapak dan Abang. Aku juga punya sahabat yang tidak pernah lelah untuk menemaniku di setiap langkah. Meskipun masa depan masih abstrak, aku mau menghabiskan tiap detik yang ku jalani untuk menghargai dan menyayangi orang-orang ini sepenuh hati, sebelum suatu saat, mungkin mereka akan pergi juga.

Jadi, keluarga bagiku tidak hanya sebatas hubungan darah, melebihi itu, keluarga adalah orang-orang yang terhubung secara tulus untuk saling memberikan cinta dan kasih sayang. Terlepas dari banyak hal egois yang ada, keluarga mengedepankan kesetaraan rasa suka dan duka yang dibagi bersama. Beruntunglah jika orang yang kita anggap keluarga akan selalu bersama kita, tidak terpaut waktu, tidak terpaut seberapa banyak kerikil dan seberapa hebat badai menerpa, mereka selalu ada.

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief

Rindu