Dialog Jatuh Cinta

Di bawah temaram lampu kedai nasi bebek langganan kita, aku melihat ponsel sembari bersungut-sungut, kemudian menonaktifkannya.

"Aku kayaknya nggak mau lagi deh." ucapku.

"Nggak mau lagi apa? Makan di sini?" jawabmu datar.

"Bukan, aku nggak mau lagi ada di hubungan platonis yang dipaksakan." jawabku lirih sambil menyeruput air jeruk hangat yang kala itu entah kenapa tidak seperti biasanya, hambar.

"Maksud kamu?" tanyamu lagi, kali ini dengan nada sedikit penasaran.

"Mulai sekarang aku mau lebih jujur pada diriku sendiri. Jalani apa yang membuatku bahagia, dan jauhi apa yang membebaniku."

"Memang, apa yang sebenarnya membuatmu bahagia?" kau mulai lagi dengan kebiasaanmu menginterogasi.

"Aku mau jatuh cinta dengan sederhana, yang dari awal tidak dipaksakan, seperti Celine dan Jesse di Before Trilogy, dua orang asing yang dipertemukan secara tidak sengaja, kemudian bertukar pikiran dan siapa sangka malah berujung saling jatuh cinta setengah mati." aku menguraikan sesuatu yang membuatmu makin bingung.

"Lalu apa kamu merasa terpaksa sekarang?" kamu menatapku tidak berkedip.

"Ya, aku merasa jatuh cinta adalah sebuah keniscayaan, apalagi di usia kita sekarang. Banyak orang menganggap kalau jatuh cinta dan menikah adalah akhir dari perjalanan hidup. Mereka merasa harus mencari kepingan lain yang dapat melengkapi kebahagiaannya, dengan berbagai cara yang terlalu dipaksakan. Kemudian mereka bilang telah jatuh cinta, padahal sebenarnya mereka hanya senang dengan fakta bahwa mereka dilimpahkan kasih sayang dan perhatian, lalu kemudian diberi iming-iming cincin pernikahan. Padahal di hati yang terdalam, mereka merasa kosong, namun terlalu takut untuk mengutarakannya. Akhirnya malah berujung pada pernikahan yang tidak bahagia. Bagaimana menurutmu?" Sekarang giliranku bertanya.

"Aku setuju dengan pernyataanmu. Tapi, bukankah banyak juga yang berawal dari keterpaksaan malah berujung bahagia? Bahkan Celine dan Jesse-pun tidak semulus itu jalannya. Banyak kerumitan yang mereka alami setelah pertemuan sederhana yang kamu bilang tadi." 

"Begini, maksudku.." lanjutmu serius. "...contoh yang kamu sebutkan tadi mungkin memang banyak terjadi, for the sake of marriage, orang-orang harus merelakan apa yang sebenarnya membuat mereka bahagia. Tapi bukankah bahagia bisa selalu diusahakan? Bahagia yang ingin kamu capai sebelumnya mungkin saja akan tergantikan oleh bahagia yang lain."

"Betul, perihal bahagia itu antara rumit dan sederhana. Bahagiaku adalah tentang apa yang hatiku katakan. Misalnya sekarang, meskipun kita makan di kedai nasi bebek di mana banyak kucing berlalu-lalang, pengamen silih berganti, piring yang dicuci dengan air kotor, suara kendaraan bersautan yang membuat kita harus menaikkan volume suara ketika berbicara, tetapi aku bahagia, aku bahagia dengan rasa nasi bebek ini, aku bahagia dengan sambutan hangat dari pedagangnya, aku bahagia mendengarkan nyanyian pengamen yang syahdu."

"...tetapi aku tidak bahagia, ketika seseorang memberikanku kasih sayang semu, ia berkata cinta dan rindu, hanya untuk suatu saat mengikatku agar tujuan hidupnya tercapai. Ia tidak peduli tentang bagaimana cara pandangku, apa yang aku mau dalam hidup, dan hal-hal prinsipil lainnya. Kamu tahu sendiri, aku bukan orang yang mudah tersipu akan hal sentimentil, diberikan bunga atau cokelat, ditraktir makanan mahal, dikunjungi terus-terusan, tidak semerta-merta membuatku langsung mau menjadikanmu pasangan seumur hidup. Namun akhir-akhir ini, aku seperti terbawa arus, aku tidak peduli dengan perasaanku, aku hanya menerima dan menerima, tanpa mau berpikir panjang. Lalu ketika dihadapkan pada sesuatu yang serius, aku baru tersadar bahwa aku tidak bahagia. Maka, sebelum terlalu jauh, aku putuskan untuk berhenti memaksa diri."

"Sepertinya aku mulai tahu arah pembicaraan ini." ucapmu sok tahu.

"Jadi, menurutmu bagaimana?" tanyaku.

"Itu alasan kamu menonaktifkan ponselmu, kan? Yang membuatmu beberapa kali menggerutu daritadi." kau berkata seperti cenayang.

"Kamu memang paling bisa." aku mulai tersenyum, sejauh ini kamu selalu menjadi sahabat yang tidak pernah gagal dalam memahami kerumitanku.

"Lalu, kamu tidak akan menikah bila belum bertemu seseorang yang mau diajak berdiskusi seumur hidup?" tanyamu gamblang.

"Ya, kira-kira begitu. Aku rumit, ya?" aku menunduk sedikit sambil melihat piring nasi yang sedari tadi telah habis kulahap isinya.

"Banget, kedai nasi bebek seharusnya jadi tempat untuk ngobrol ringan aja. Kamu, malah bawa-bawa keniscayaan, apalah, pusing aku." jawabmu sambil menyeringai usil dan kusambut dengan pukulan kecil di tanganmu.

"...tapi aku yakin.." tiba-tiba kamu melanjutkan dengan nada serius "...you'll find your own Jesse."
"...yang menerima segala rumit dan sederhanamu, bahkan mau ikut terserap ke dalamnya."

"Tumben, puitis. Nggak cocok ah sama muka sangarmu." aku meledek sembari berdiri dan menuju pedagang kedai untuk membayar makanan.

Lalu, ketika sampai rumah, ada sebuah pesan singkat darimu, mungkin hanya ucapan tidak penting seperti 'duh tadi lupa beli kopi dulu' atau 'sepatuku kena ranjau.'

Namun, kali ini berbeda.
Kamu menuliskan, "What if I can be your Jesse?"

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief

Rindu