Sajak Tuan
Tuan yang kutunggu dalam rindu,
aku tahu ragamu kuat meski jiwamu serasa hampir tenggelam dilahap paus biru
kamu mati-matian berjuang lewati katrina dalam diammu yang sendu
lalu aku, Tuan, tahu betul apa arti binar matamu meski kamu berusaha tersipu
Tuan yang malang,
kamu pergi menapakki lahan berlubang seperti di bulan yang tanpa ilalang
tidak jarang kamu menitikkan air mata karena hari terlalu gersang
lalu aku, Tuan, hanya bisa meminta pada-Nya untuk segala mudahmu di seberang
Tuan yang senyumnya muram,
di antara ikan yang bersedih karena tidak bisa terbang, mungkin laramu lebih suram
tatapanmu sekosong rumah berhantu di ujung jalan saat mulai malam
lalu aku, Tuan, bersedia menampung tumpukan lukamu walau intisariku melebam
aku tahu ragamu kuat meski jiwamu serasa hampir tenggelam dilahap paus biru
kamu mati-matian berjuang lewati katrina dalam diammu yang sendu
lalu aku, Tuan, tahu betul apa arti binar matamu meski kamu berusaha tersipu
Tuan yang malang,
kamu pergi menapakki lahan berlubang seperti di bulan yang tanpa ilalang
tidak jarang kamu menitikkan air mata karena hari terlalu gersang
lalu aku, Tuan, hanya bisa meminta pada-Nya untuk segala mudahmu di seberang
Tuan yang senyumnya muram,
di antara ikan yang bersedih karena tidak bisa terbang, mungkin laramu lebih suram
tatapanmu sekosong rumah berhantu di ujung jalan saat mulai malam
lalu aku, Tuan, bersedia menampung tumpukan lukamu walau intisariku melebam
Comments
Post a Comment