Niscala
Barangkali ada pepatah dengan arti paling menyedihkan, keadaan yang kita alami sekarang mungkin jauh lebih dari itu.
Tidak ada pula sajak puisi yang dapat menggambarkan getirnya hati akan hari yang berjalan kian kejamnya.
Ratusan jiwa tumbang menuju liang sempit sembari cacing menunggu untuk menemani, namun titik terang belum juga datang.
Tangisan yang tercinta bahkan tidak terdengar padahal pilu di hatinya seperti ditusuk parang.
Tidak ada pula sajak puisi yang dapat menggambarkan getirnya hati akan hari yang berjalan kian kejamnya.
Ratusan jiwa tumbang menuju liang sempit sembari cacing menunggu untuk menemani, namun titik terang belum juga datang.
Tangisan yang tercinta bahkan tidak terdengar padahal pilu di hatinya seperti ditusuk parang.
Barangkali aku harus memilih untuk habiskan sisa waktu kejam ini dengan siapa, aku akan berjalan gagah menuju gerbang rumahmu, yang jalannya dikelilingi oleh tanaman liar dan berduri.
Akan ku tapakki semua jalan dan jembatan yang rapuh meski aku punya kelemahan menjaga keseimbangan.
Dengan senang hati kuhabiskan waktu untuk bicara tentang buku kesukaanmu sampai kau lelah dan tertidur.
Lalu aku rela meminum kopi pahit yang tak kusuka demi menjagamu hingga terbangun.
Barangkali kau bertanya mengapa aku begitu keras kepala melindungimu.
Akan kujawab dengan sajak puisi paling indah dari negeri seberang, yang kalimatnya tidak kau pahami meski dibaca berulang.
Ku jelaskan hati-hati bahwa segala tentangmu adalah keindahan sederhana yang selalu kuidamkan.
Namun kau bergeming tidak percaya, "aku hanyalah batu yang tergerus, dari mana indahnya?" katamu heran.
Padahal aku tidak peduli entah kau batu atau ranting pohon sekalipun.
Melindungimu di hari yang kian bengis ini, sepertinya hanya satu-satunya cara agar ku bertahan.
Akan ku tapakki semua jalan dan jembatan yang rapuh meski aku punya kelemahan menjaga keseimbangan.
Dengan senang hati kuhabiskan waktu untuk bicara tentang buku kesukaanmu sampai kau lelah dan tertidur.
Lalu aku rela meminum kopi pahit yang tak kusuka demi menjagamu hingga terbangun.
Barangkali kau bertanya mengapa aku begitu keras kepala melindungimu.
Akan kujawab dengan sajak puisi paling indah dari negeri seberang, yang kalimatnya tidak kau pahami meski dibaca berulang.
Ku jelaskan hati-hati bahwa segala tentangmu adalah keindahan sederhana yang selalu kuidamkan.
Namun kau bergeming tidak percaya, "aku hanyalah batu yang tergerus, dari mana indahnya?" katamu heran.
Padahal aku tidak peduli entah kau batu atau ranting pohon sekalipun.
Melindungimu di hari yang kian bengis ini, sepertinya hanya satu-satunya cara agar ku bertahan.
Comments
Post a Comment