Staying Healthy is A Life-time Journey
Seperti judul di atas, tulisan kali ini akan membahas seputar kondisi kesehatan dan gaya hidupku beberapa bulan ke belakang, termasuk mengenai penurunan berat badan yang aku alami. Sedikit informasi, sekitar bulan Desember 2019 - Januari 2020 berat badanku sampai ke angka 60 - 61 kg. Dengan tinggi 155 cm dan bb 61 kg, pada saat itu aku sudah masuk kategori overweight. 😠(temen-temen juga bisa cek di https://www.cdc.gov/healthyweight/assessing/bmi/adult_bmi/metric_bmi_calculator/bmi_calculator.html )
Kalau diingat lagi, akhir tahun lalu itu sepertinya salah satu masa terberat dalam hidupku ya, jadi dari awal aku sudah stres secara psikis, lalu berujung ke makan dan tidur yang tidak teratur, ditambah tidak pernah lagi olahraga maka terjadilah kenaikan bb yang cukup signifikan setelah sebelumnya sempat di angka 57 - 58 kg. Bukan cuma itu, secara fisik aku juga jadi lebih lemah, mudah sakit, sering demam tidak jelas sampai ke breakout jerawat terparah semasa hidup.
Sampai akhirnya, beberapa hari lalu aku cek timbangan dan agak bikin shock tapi senang! Kok bisa bb-ku jadi 53 kg? Meskipun aku ngerasa ya memang agak kurusan sih tapi nggak nyangka bisa mencapai angka bb di bawah 55 kg lagi. Bahkan waktu SMA-pun bb-ku stuck terberat di 55 kg. Hahaha memang sudah terbiasa agak kelebihan bobot sedari dini nih mohon maaf. 😄
Mungkin ini beberapa alasan kira-kira kenapa aku bisa mengalami penurunan bb yang cukup banyak tanpa sakit-sakitan atau dipaksakan:
1. NIAT
Ini adalah inti dari segala perubahan, entah perubahan apapun itu. Seperti firman Allah di surah Ar-Ra'd bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. Maaf ya sedikit sok cosplay jadi mamah Dedeh haha, tapi menurutku ayat ini sangat magis sekali. Betapa dia bisa membuat seseorang terinspirasi untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Nah, tapi meskipun sudah punya niat berubah-pun tetap harus ditelusuri lagi, niatnya sudah benar belum, atau terlalu muluk-muluk nggak? Kalau sebelum ini aku pernah berniat diet hanya untuk terlihat cantik, atau supaya gampang cari baju, ya pantas saja gagal terus, niatnya hanya mentok di 'dunia', tanpa melibatkan Allah pula. Maka, pada suatu hari di bulan Januari kemarin, aku mencoba untuk mengubah niatku, kalau aku mau mulai hidup sehat dan aku mau hidup damai secara fisik dan mental. Aku nggak terlalu peduli sama bentuk atau berat badan, at least aku gak mudah capek atau sakit dan tentunya pikiran senang, sampai ke tahap itu aja udah cukup banget buatku. Jadi, berawal dari meluruskan niat, barulah terbuka jalan menuju hidup yang lebih sehat (dan lebih bahagia pastinya).
2. POLA MAKAN
Sebelum kita ubah pola makan, kita harus paham dulu kondisi badan kita, punya penyakit apa aja, maag kronis atau autoimun atau alergi tertentu mungkin? Kalau badan kita sehat-sehat aja, insyaa Allah jadi lebih mudah. Dari situ kita bisa mulai coba pilih-pilih menu makan kita sehari-hari. Jujur makanku gak se-sehat itu juga sih, masih sering makan gorengan, mie ayam, dan makanan-makanan lain yang mengandung bahan pengawet. Justru kalau terlalu ketat soal makan, aku malah stres dan yang ada gagal total eksekusi niatnya. Jadi yang aku kurangi paling hanya porsi dan intervalnya aja, kalau misal sebelumnya dalam sehari aku makan 3 kali sehari, jadi 2 hari sekali. Atau kalau makan 3 kali sehari, tiap servingnya dikurangi porsi nasi/lauknya, yang sebelumnya jadi 2 centong nasi, jadi 1 centong.
Sampai akhirnya, beberapa hari lalu aku cek timbangan dan agak bikin shock tapi senang! Kok bisa bb-ku jadi 53 kg? Meskipun aku ngerasa ya memang agak kurusan sih tapi nggak nyangka bisa mencapai angka bb di bawah 55 kg lagi. Bahkan waktu SMA-pun bb-ku stuck terberat di 55 kg. Hahaha memang sudah terbiasa agak kelebihan bobot sedari dini nih mohon maaf. 😄
Mungkin ini beberapa alasan kira-kira kenapa aku bisa mengalami penurunan bb yang cukup banyak tanpa sakit-sakitan atau dipaksakan:
1. NIAT
Ini adalah inti dari segala perubahan, entah perubahan apapun itu. Seperti firman Allah di surah Ar-Ra'd bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. Maaf ya sedikit sok cosplay jadi mamah Dedeh haha, tapi menurutku ayat ini sangat magis sekali. Betapa dia bisa membuat seseorang terinspirasi untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Nah, tapi meskipun sudah punya niat berubah-pun tetap harus ditelusuri lagi, niatnya sudah benar belum, atau terlalu muluk-muluk nggak? Kalau sebelum ini aku pernah berniat diet hanya untuk terlihat cantik, atau supaya gampang cari baju, ya pantas saja gagal terus, niatnya hanya mentok di 'dunia', tanpa melibatkan Allah pula. Maka, pada suatu hari di bulan Januari kemarin, aku mencoba untuk mengubah niatku, kalau aku mau mulai hidup sehat dan aku mau hidup damai secara fisik dan mental. Aku nggak terlalu peduli sama bentuk atau berat badan, at least aku gak mudah capek atau sakit dan tentunya pikiran senang, sampai ke tahap itu aja udah cukup banget buatku. Jadi, berawal dari meluruskan niat, barulah terbuka jalan menuju hidup yang lebih sehat (dan lebih bahagia pastinya).
2. POLA MAKAN
Sebelum kita ubah pola makan, kita harus paham dulu kondisi badan kita, punya penyakit apa aja, maag kronis atau autoimun atau alergi tertentu mungkin? Kalau badan kita sehat-sehat aja, insyaa Allah jadi lebih mudah. Dari situ kita bisa mulai coba pilih-pilih menu makan kita sehari-hari. Jujur makanku gak se-sehat itu juga sih, masih sering makan gorengan, mie ayam, dan makanan-makanan lain yang mengandung bahan pengawet. Justru kalau terlalu ketat soal makan, aku malah stres dan yang ada gagal total eksekusi niatnya. Jadi yang aku kurangi paling hanya porsi dan intervalnya aja, kalau misal sebelumnya dalam sehari aku makan 3 kali sehari, jadi 2 hari sekali. Atau kalau makan 3 kali sehari, tiap servingnya dikurangi porsi nasi/lauknya, yang sebelumnya jadi 2 centong nasi, jadi 1 centong.
Yang paling penting dari poin makan pada saat mau menurunkan bb itu sebenarnya bukan pada saat makan besar sih menurutku, yaitu pada saat ngemil. Waktu kerja di kantor sebelumnya, aku tuh paling nggak bisa nolak ajakan jajan dari teman, jadi hampir setiap hari beli boba, atau minuman-minuman kekinian lain yang sebenarnya aku gak suka-suka amat tapi for the sake of solidarity, yaudah deh beli aja. Hahaha jangan ditiru ya teman-teman. Prinsipil tentang kehidupan itu salah satunya ya juga dilihat dari kebijaksanaan kita memilah makanan yang masuk ke dalam tubuh. Untungnya setelah resign, pelan-pelan aku bisa mengatur lagi pola makan, jajan juga jadi jarang banget, ditambah dengan adanya pandemi, jadi bikin makin hemat, alhamdulillah, ada hikmah juga ya dibalik pandemi ini. Anyway, sebelum ngelantur kemana-mana, intinya yang mau kubilang pada poin ini adalah, atur porsi makan berat (sewajarnya aja, jangan terlalu berlebihan dan tepat waktu ya, jangan nunggu sampai kelaperan), kurangi jajan, less boba won't make your life any less sweeter, tapi jangan saklek juga bener-bener nggak mau ngemil, sekali dua kali boleh, contohnya aku waktu lebaran kemarin membatasi diri makan kue kering maksimal 2 atau 3 buah perhari. Kemudian, perbanyak makan sayur, buah dan coba deh minumin herbs drink, kalau favoritku sih teh hijau dikasih lemon tapi tanpa gula, kalo teman-teman mau tambah sedikit gula dan sereh juga boleh, makin mantap rasanya.
4. OLAHRAGA
I think this is one of the ultimate reasons why my calories went away (dengan izin Allah tentunya).
Aku sebenarnya memang suka olahraga dari dulu, pernah ikut klub Taekwondo, suka main handball, rutin renang, skipping dan lainnya. Tapi pada saat kuliah, entah kenapa hobi olahragaku jadi menciut drastis, tapi hobi makan makin ahli, jadilah badan seperti bola hehehe. Akhir tahun 2019, aku sempat mikir beberapa opsi olahraga yang harus aku jadikan rutinitas, sempat beberapa kali coba jogging, tapi kayaknya aku belum sreg ngejalaninnya, karena beberapa kali kucoba, ujung-ujungnya langsung jalan santai. Sempat coba zumba, dan I love iiiit. Tapi, ujung-ujungnya harus kuurungi karena tempat zumbaku dulu agak jauh dari rumah, jadi ya paling cuma bisa sesekali zumba di rumah dengan bantuan instruktur dari Youtube.
Kemudian, aku lihat postingan temanku di Instagram yang sedang sepedaan, dan langsung impulsif tanya banyak hal tentang sepeda. Langsung teringat di memori kalau dulu waktu SD, hampir tiap hari waktu siangku selalu dihabiskan bermain sepeda sampai kulit makin keling dan rambut pirang karena terik matahari. Sesuka itu aku bersepeda, bahkan bisa sampai lepas dua tangan, ngebut sampai terguling, tapi ya nggak kapok hahaha. Akhirnya, salah satu keputusan terbaik dalam hidupku adalah membeli sepeda dengan uang tabungan yang tadinya ku-alokasikan untuk liburan. Gak akan pernah nyesal, karena keputusan itu membawaku ke banyak keberkahan lain dalam hidup. Awal beli sepeda, sempat ada kekhawatiran, masih bisa nggak ya sepedaan, atau berani nggak ya, sepedaan di jalan yang makin ramai kayak sekarang. Untungnya, aku berada di lingkungan pertemanan dan keluarga yang sangat suportif dan saling menguatkan, jadi, menemukan olahraga yang disenangi aja nggak cukup, tapi lingkungan yang tidak toksik dan selalu mendukung juga merupakan komponen penting kalau kita mau jadikan olahraga sebagai rutinitas.
Tipsku dulu saat memulai lagi sepedaan adalah coba dengan jarak yang dekat dulu, jadi biasanya aku sepedaan selama 15-30 menit dengan total jarak sekitar 3 sampai 4 km di sekitar rumah dengan kecepatan lambat, kalau merasa capek atau engap dikit ya berhenti dulu, nggak perlu merasa kuat atau memaksakan diri untuk langsung jadi pro. Kemudian beberapa minggu kemudian ketika aku merasa paha dan betisku sudah mulai kuat, baru aku memberanikan diri sepedaan lebih dari 10 km, sampai akhirnya sekarang bisa lebih dari 60km. Bukan proses yang mudah, sering di awal dulu setelah sepedaan 20km, badanku sampai menggigil saking lelahnya, tapi karena aku bahagia ya tidak kapok dan malah mau lagi. Nanti lama-lama badan kita akan beradaptasi dan malah jadi suntuk kalau nggak olahraga seminggu saja. Kemudian aku baru tahu kalau beberapa jam sepedaan ternyata bisa membakar sampai 1000 kalori, jadi ya wajar mungkin kalau berat badanku seperti 'secara tidak sadar' kok hilang aja? Ya karena ketika aku menjalaninya dengan hati bahagia. Mungkin nanti aku akan buat tulisan khusus tentang sepeda dan bagaimana rutinitas ini mengubah sedikit banyak pandanganku tentang kehidupan.
Duh, panjang juga ya. 😅
Semoga tulisanku yang ngalor-ngidul ini ada manfaatnya untuk teman-teman meskipun sedikit ya. Yang jelas seperti judul di atas, kuharap kita bisa menjadikan hidup sehat sebagai sebuah perjalanan seumur hidup yang membuat kita bahagia, bagaimana di perjalanan itu kita bisa mendapatkan banyak hal-hal positif yang membuat kualitas hidup kita meningkat, jadi bukan hanya semata tujuan akhir yang hampa makna.
I hope you'll always be staying healthy and happy while getting through this pandemic situation so someday in the near future (hopefully) we'll all be laughing together with no mask on and without being afraid of risking our life. 💓
Comments
Post a Comment