Kontemplasi Diri

Akhir-akhir ini aku memulai pagi dengan gelisah. Lebih dari 5 menit kuhabiskan hanya dengan menatap kosong pintu kamar yang lampunya masih padam berharap di luar sana ada roket yang siap membawaku ke Mars sehingga hari ini akan terasa berbeda dari kemarin. Namun alih-alih roket, yang kulihat tetaplah tembok dengan cat krem agak pudar dan lampu gantung dengan debu yang kian tebal karena aku belum menemukan cara untuk menurunkan dan membersihkannya secara manusiawi. Atau lebih tepatnya, kemalasanku selalu menemukan cara untuk menundanya.

Tidak lama kemudian matahari mulai bertandang dengan percaya diri, lalu ia seolah tertawa dengan teriknya dan mengejekku "masihkah kamu tidak berguna hari ini?" Jujur aku tidak peduli dengan matahari, biar kuserahkan ke langit dan awan mendung untuk membalas ledekannya padaku. Namun terkadang aku merasa apa yang dibilang matahari ada benarnya juga.

Tiba-tiba pikiranku melayang pada beberapa tangkai bunga pukul 9 yang baru kutanam kemarin di balkon rumah. Kelopak putihnya bermekaran dengan anggun disertai benang sari berwarna kuning di tengahnya seperti barisan peri yang siap terbang. Padahal baru beberapa menit sebelumnya kulihat kelopak itu masih kuncup dengan malu-malu, lalu tanpa diingatkan alarm atau weker, mereka bermekaran dengan cantiknya, tepat pukul 9 pagi.

Sebagai manusia dengan kadar keimanan yang masih dipertanyakan, tentu aku sering luput terhadap hal-hal kecil yang sepatutnya buatku bersyukur setiap hari. Padahal Tuhan selalu mengingatkanku dengan berbagai cara luar biasa yang seringkali ku abaikan. Semakin dipikirkan, semakin malu dan rendah diri aku sebagai seorang hamba. Bunga pukul 9 yang tampak ringkih-pun punya waktu sendiri untuk menunjukkan keindahannya, begitupun manusia. Tiap gen berbeda yang kita bawa ini sudah dirancang sesempurna mungkin oleh Tuhan untuk bermekaran dengan waktu terbaiknya masing-masing. Aku hanya perlu percaya satu hal penting seperti itu, namun kerap kali aku merasa lemah dan kalah terhadap hal lain yang tidak memiliki kekuatan apapun, seperti lupa akan kuasa Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Perkasa.

Yaa Allah, sesungguhnya selama ini aku menzholimi diriku sendiri. Tuntun aku untuk selalu berpegang teguh pada jalan lurus-Mu, dan berprasangka baik pada segala rencana-Mu. Aamiin aamiin allaahumma aamiin..

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief

Rindu