Mama
Kadang aku berandai, bila mama tak lewati jalan sulit itu, mungkinkah ia kini sedang bersenda gurau dengan tetangga sambil main voli di lapangan komplek.
Bila ia berani keluar dari kemuramannya, mungkinkah ia kini sedang masak-masak untuk hajatan anak teman sekampusnya.
Lalu saat pulang ke rumah, ia rebahan sembari ditemani ngobrol oleh asisten rumah tangga yang sudah dianggapnya seperti anak, tanpa pusing memikirkan uang dan penyakitnya.
Ia tak harus bangun paling pagi, bekerja sedari dini, mengoyakkan tulang dan ototnya seharian, demi anaknya bisa makan.
Ia pun tak harus menangis sendirian sambil mandi, menutupi semua rasa sesaknya dan berpura-pura bahagia.
Kadang aku berandai, bila aku lebih cerdas dan beruntung, mungkinkah kini kami sedang berjalan-jalan ke luar negeri sambil melihat salju dan mama akan teriak kegirangan.
Lalu kami akan rutin beribadah umroh, sampai mama rajin membagikan air zam-zam pada saudara yang dulu suka meremehkannya.
Pada hari minggu, kami akan bersepeda keliling komplek, lalu melipir ke tukang bubur langganan sembari mama membonceng cucu kebanggaannya..
Oh mama..
Betapa malangnya nasibmu di dunia.
Pun aku, anakmu, tak bisa meredam kemalangan itu sampai kau tutup usia.
Maafkan aku mama, atas semua.
Mama sayang, tidur yang tenang, kuharap kelak surga yang kau pandang.
Rinduku tersemat di tiap detik sejak kepergianmu.
Comments
Post a Comment