Setiap hari aku bangun dengan sesak yang sama.
Berjalan sekelibat ke belakang melihat jejak yang dibangun bersama.
Bukan cuma kesenangan, kepahitan, kemarahan, kekecewaan, semuanya berkumpul di jejak itu.
Lalu, aku berpikir kembali dan bertanya, kenapa?
Tidak ada yang bisa menjawab.

Lalu, aku mulai merendahkan diriku lagi.
Tidak sekali, dua kali, tetapi setiap pagi saat bangun dan setiap malam sebelum tidur.
Aku dengan kebodohanku yang seharusnya tidak menerima kehadirannya sejak awal.
Sejak dia ajak bercanda tentang pakaianku yang seperti bendera.
Atau sejak dia dengan beraninya menyatakan perasaan di koridor dan dilihat banyak orang.

Aku juga seharusnya tidak mudah percaya kalau akan ada orang yang mau menerimaku apa adanya.
Ketika pada akhirnya aku hanya sebuah rencana cadangan yang sudah dipikirkan sedemikian rupa, untuk suatu hari ditinggalkan, dan dibilang pelajaran berharga.

Comments

Popular posts from this blog

Temporary Part I

Grief

Rindu