Posts

Mama

Kadang aku berandai, bila mama tak lewati jalan sulit itu, mungkinkah ia kini sedang bersenda gurau dengan tetangga sambil main voli di lapangan komplek. Bila ia berani keluar dari kemuramannya, mungkinkah ia kini sedang masak-masak untuk hajatan anak teman sekampusnya. Lalu saat pulang ke rumah, ia rebahan sembari ditemani ngobrol oleh asisten rumah tangga yang sudah dianggapnya seperti anak, tanpa pusing memikirkan uang dan penyakitnya. Ia tak harus bangun paling pagi, bekerja sedari dini, mengoyakkan tulang dan ototnya seharian, demi anaknya bisa makan. Ia pun tak harus menangis sendirian sambil mandi, menutupi semua rasa sesaknya dan berpura-pura bahagia. Kadang aku berandai, bila aku lebih cerdas dan beruntung, mungkinkah kini kami sedang berjalan-jalan ke luar negeri sambil melihat salju dan mama akan teriak kegirangan. Lalu kami akan rutin beribadah umroh, sampai mama rajin membagikan air zam-zam pada saudara yang dulu suka meremehkannya. Pada hari minggu, kami akan bersepeda ke...

Accepting

Hidup dan segala kerumitannya.. Termasuk hubungan antara satu manusia dengan yang lainnya. Betapa aneh, bagaimana kita bisa sangat tidak kompeten di hadapan seseorang, namun bagi orang lain, kita justru seperti berkat. Bagaimana kita sangat kikuk memotong wortel dan kentang di hadapan ibu mertua, namun kita sangat lihai mencincang daging dan membuat kue di hadapan orang tua sendiri. Bagaimana kita sangat bodoh berbicara di depan pak RT, namun sangat pandai berhadapan dengan teman sejawat. Namun bukankah hidup tentang menerima, menerima perspektif orang lain terhadapmu, menerima kalau kamu tidak akan pernah sempurna, dan tidak selalu berfungsi dengan baik. Mungkin beberapa orang menganggapmu seperti mesin usang yang berdebu, tetapi beberapa yang lain justru memandangmu seperti lukisan indah di pameran seni. Hidup dengan segala carut marutnya sudah cukup intens mengoyak batinmu. Sekarang cukuplah saja dengan menerima. Menerima dengan sebaik-baik prasangka dan selapang-lapangnya hati.

Rindu

Suatu ketika aku melihat salah satu campaign brand besar terkait pandemi yang mengubah hidup kita. Dikisahkan bahwa begitu banyak kesedihan dan kehilangan yang kita rasakan selama 2 tahun ini. Seketika air mataku mulai mengambang. Sudah hampir setahun ini orang tuaku, tidak hanya satu, dua-duanya, telah berpulang ke Yang Maha Kuasa akibat pandemi. Hidupku setelahnya hanya berupa kekosongan yang selalu kucoba untuk dipenuhi lagi namun selalu gagal. Kalau bukan karena Allah yang menguatkan, aku hanyalah manusia rapuh yang habiskan sisa hidup meratapi nasibnya tanpa kasih sayang orang tua. Ma, Pak, aku rindu menjadi satu-satunya anak perempuan yang dicinta. Dimasakkan makanan kesukaannya, dibuatkan pakaian yang indah, dipeluk ketika sedih. Aku ingat betapa Mama dan Bapak selalu mengkhawatirkanku, bagaimana jika aku terluka, bagaimana jika aku disakiti, bagaimana jika aku merasa tidak nyaman, dan banyak hal lainnya seolah aku adalah mutiara yang harus selalu kalian lindungi. Hidup tanpa ka...

Grief

Ada sebuah kisah tentang waktu. Betapa ia begitu berharga ketika sudah terlewati, namun sering disia-siakan ketika dijalani. Berulang kali Allah berfirman dalam Alqur'an tentang betapa meruginya manusia dalam menggunakan waktu, namun kerap kali kita lalai dan meremehkannya hingga menyesal kemudian. Saat ini sudah memasuki tahun 2022, lebih dari setahun sejak terakhir saya membuat tulisan di blog ini. Dan sejak itu, terlalu banyak perubahan terjadi dalam hidup saya. Tiap detiknya terasa begitu padat sampai saya tidak dapat membuka blog hanya untuk sekadar bersantai dan menuangkan pikiran. Dimulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, positif Covid 19, hingga meninggalnya kedua orang tua tercinta. Semua terjadi dalam kurun waktu kurang dari setahun, yang membuat fisik dan mental saya berada dalam titik terendah seumur hidup. 'Yaa Allah, berat sekali.' sering saya ucapkan dalam hati. Terasa kian berat menjelang masa-masa persalinan. Tidak pernah terbayang di pikiran saya, akan...

Kontemplasi Diri

Akhir-akhir ini aku memulai pagi dengan gelisah. Lebih dari 5 menit kuhabiskan hanya dengan menatap kosong pintu kamar yang lampunya masih padam berharap di luar sana ada roket yang siap membawaku ke Mars sehingga hari ini akan terasa berbeda dari kemarin. Namun alih-alih roket, yang kulihat tetaplah tembok dengan cat krem agak pudar dan lampu gantung dengan debu yang kian tebal karena aku belum menemukan cara untuk menurunkan dan membersihkannya secara manusiawi. Atau lebih tepatnya, kemalasanku selalu menemukan cara untuk menundanya. Tidak lama kemudian matahari mulai bertandang dengan percaya diri, lalu ia seolah tertawa dengan teriknya dan mengejekku "masihkah kamu tidak berguna hari ini?" Jujur aku tidak peduli dengan matahari, biar kuserahkan ke langit dan awan mendung untuk membalas ledekannya padaku. Namun terkadang aku merasa apa yang dibilang matahari ada benarnya juga. Tiba-tiba pikiranku melayang pada beberapa tangkai bunga pukul 9 yang baru kutanam kemar...

Temporary Part I

Kau bilang "Jangan menaruh harap padaku." singkat dan jelas. Aku hanya bisa terdiam bingung sambil menatap kosong ke jalan besar dengan banyak kendaraan berlalu-lalang yang klaksonnya tak henti bersautan. Isi pikiranku sama kalutnya dengan keadaan jalan itu, mungkin sedikit lebih kacau karena tidak ada lampu merah yang mencoba menertibkan, bahkan marka jalannya sudah pudar, jadi di dalam kepalaku ini seperti sedang terjadi tabrakan beruntun namun tidak ada warga yang dapat gotong-royong menolong. "Kenapa?" Tanyaku singkat dengan suara bergetar. Kini kau yang terdiam lama sambil menunduk, padahal aku sudah siap dengan segala jawaban memilukan yang akan kudengar, meskipun menerima dan memprosesnya dengan baik belum tentu bisa kulakukan. Kau masih menunduk, mungkin sedang menyiapkan jawaban terbaik agar ketika pulang nanti aku tidak menangis di jalan. Namun sebelum kau sempat membuka mulut, aku dengan tegas berkata, "Aku bersyukur dengan keadaan kita sek...

Staying Healthy is A Life-time Journey

Seperti judul di atas, tulisan kali ini akan membahas seputar kondisi kesehatan dan gaya hidupku beberapa bulan ke belakang, termasuk mengenai penurunan berat badan yang aku alami. Sedikit informasi, sekitar bulan Desember 2019 - Januari 2020 berat badanku sampai ke angka 60 - 61 kg. Dengan tinggi 155 cm dan bb 61 kg, pada saat itu aku sudah masuk kategori overweight. 😭 (temen-temen juga bisa cek di  https://www.cdc.gov/healthyweight/assessing/bmi/adult_bmi/metric_bmi_calculator/bmi_calculator.html  ) Kalau diingat lagi, akhir tahun lalu itu sepertinya salah satu masa terberat dalam hidupku ya, jadi dari awal aku sudah stres secara psikis, lalu berujung ke makan dan tidur yang tidak teratur, ditambah tidak pernah lagi olahraga maka terjadilah kenaikan bb yang cukup signifikan setelah sebelumnya sempat di angka 57 - 58 kg. Bukan cuma itu, secara fisik aku juga jadi lebih lemah, mudah sakit, sering demam tidak jelas sampai ke breakout  jerawat terparah semasa hidup. ...