Posts

Showing posts from 2020

Kontemplasi Diri

Akhir-akhir ini aku memulai pagi dengan gelisah. Lebih dari 5 menit kuhabiskan hanya dengan menatap kosong pintu kamar yang lampunya masih padam berharap di luar sana ada roket yang siap membawaku ke Mars sehingga hari ini akan terasa berbeda dari kemarin. Namun alih-alih roket, yang kulihat tetaplah tembok dengan cat krem agak pudar dan lampu gantung dengan debu yang kian tebal karena aku belum menemukan cara untuk menurunkan dan membersihkannya secara manusiawi. Atau lebih tepatnya, kemalasanku selalu menemukan cara untuk menundanya. Tidak lama kemudian matahari mulai bertandang dengan percaya diri, lalu ia seolah tertawa dengan teriknya dan mengejekku "masihkah kamu tidak berguna hari ini?" Jujur aku tidak peduli dengan matahari, biar kuserahkan ke langit dan awan mendung untuk membalas ledekannya padaku. Namun terkadang aku merasa apa yang dibilang matahari ada benarnya juga. Tiba-tiba pikiranku melayang pada beberapa tangkai bunga pukul 9 yang baru kutanam kemar...

Temporary Part I

Kau bilang "Jangan menaruh harap padaku." singkat dan jelas. Aku hanya bisa terdiam bingung sambil menatap kosong ke jalan besar dengan banyak kendaraan berlalu-lalang yang klaksonnya tak henti bersautan. Isi pikiranku sama kalutnya dengan keadaan jalan itu, mungkin sedikit lebih kacau karena tidak ada lampu merah yang mencoba menertibkan, bahkan marka jalannya sudah pudar, jadi di dalam kepalaku ini seperti sedang terjadi tabrakan beruntun namun tidak ada warga yang dapat gotong-royong menolong. "Kenapa?" Tanyaku singkat dengan suara bergetar. Kini kau yang terdiam lama sambil menunduk, padahal aku sudah siap dengan segala jawaban memilukan yang akan kudengar, meskipun menerima dan memprosesnya dengan baik belum tentu bisa kulakukan. Kau masih menunduk, mungkin sedang menyiapkan jawaban terbaik agar ketika pulang nanti aku tidak menangis di jalan. Namun sebelum kau sempat membuka mulut, aku dengan tegas berkata, "Aku bersyukur dengan keadaan kita sek...

Staying Healthy is A Life-time Journey

Seperti judul di atas, tulisan kali ini akan membahas seputar kondisi kesehatan dan gaya hidupku beberapa bulan ke belakang, termasuk mengenai penurunan berat badan yang aku alami. Sedikit informasi, sekitar bulan Desember 2019 - Januari 2020 berat badanku sampai ke angka 60 - 61 kg. Dengan tinggi 155 cm dan bb 61 kg, pada saat itu aku sudah masuk kategori overweight. 😭 (temen-temen juga bisa cek di  https://www.cdc.gov/healthyweight/assessing/bmi/adult_bmi/metric_bmi_calculator/bmi_calculator.html  ) Kalau diingat lagi, akhir tahun lalu itu sepertinya salah satu masa terberat dalam hidupku ya, jadi dari awal aku sudah stres secara psikis, lalu berujung ke makan dan tidur yang tidak teratur, ditambah tidak pernah lagi olahraga maka terjadilah kenaikan bb yang cukup signifikan setelah sebelumnya sempat di angka 57 - 58 kg. Bukan cuma itu, secara fisik aku juga jadi lebih lemah, mudah sakit, sering demam tidak jelas sampai ke breakout  jerawat terparah semasa hidup. ...

Obituari Hati

Belakangan ini tiap selesai merampungkan rangkaian sujud, ku selipkan doa rahasia kepada Tuhan perihal kita. Tentang bagaimana hari akan menuntun langkah kaki kecil ini menuju suatu gerbang yang belum kita tahu namanya apa. Mungkin pada hari itu, kita akan gelagapan tentang suatu rasa yang dengan pandainya kita pendam sekian lama. Kita akan kikuk dan tersenyum canggung tidak karuan atau mungkin kita akan berpura-pura tegar padahal kalutnya hati seperti dihujam tsunami. Sampai hari itu tiba, mungkin kita akan terus mengulur waktu dengan berbagai kalimat pertanyaan yang sudah saling kita tahu jawabannya, namun mendengarnya lagi seperti sebuah keharusan. Jawaban pertanyaan itu kita putar kembali dalam relung, berulang-ulang sampai terbawa mimpi. Namun pada akhirnya, kita selalu kalah dengan ragu. Kita terlalu banyak berpikir tentang masa di mana kita akan saling menyakiti. Atau tentang masa lalu yang pernah menggerogoti kita begitu ganasnya. Juga tentang banyak hal lain ...

Niscala

Barangkali ada pepatah dengan arti paling menyedihkan, keadaan yang kita alami sekarang mungkin jauh lebih dari itu. Tidak ada pula sajak puisi yang dapat menggambarkan getirnya hati akan hari yang berjalan kian kejamnya. Ratusan jiwa tumbang menuju liang sempit sembari cacing menunggu untuk menemani, namun titik terang belum juga datang. Tangisan yang tercinta bahkan tidak terdengar padahal pilu di hatinya seperti ditusuk parang. Barangkali aku harus memilih untuk habiskan sisa waktu kejam ini dengan siapa, aku akan berjalan gagah menuju gerbang rumahmu, yang jalannya dikelilingi oleh tanaman liar dan berduri. Akan ku tapakki semua jalan dan jembatan yang rapuh meski aku punya kelemahan menjaga keseimbangan. Dengan senang hati kuhabiskan waktu untuk bicara tentang buku kesukaanmu sampai kau lelah dan tertidur. Lalu aku rela meminum kopi pahit yang tak kusuka demi menjagamu hingga terbangun. Barangkali kau bertanya mengapa aku begitu keras kepala melindungimu. Akan kujawa...

Sajak Tuan

Tuan yang kutunggu dalam rindu, aku tahu ragamu kuat meski jiwamu serasa hampir tenggelam dilahap paus biru kamu mati-matian berjuang lewati katrina dalam diammu yang sendu lalu aku, Tuan, tahu betul apa arti binar matamu meski kamu berusaha tersipu Tuan yang malang, kamu pergi menapakki lahan berlubang seperti di bulan yang tanpa ilalang tidak jarang kamu menitikkan air mata karena hari terlalu gersang lalu aku, Tuan, hanya bisa meminta pada-Nya untuk segala mudahmu di seberang Tuan yang senyumnya muram, di antara ikan yang bersedih karena tidak bisa terbang, mungkin laramu lebih suram tatapanmu sekosong rumah berhantu di ujung jalan saat mulai malam lalu aku, Tuan, bersedia menampung tumpukan lukamu walau intisariku melebam

Dialog Jatuh Cinta

Di bawah temaram lampu kedai nasi bebek langganan kita, aku melihat ponsel sembari bersungut-sungut, kemudian menonaktifkannya. "Aku kayaknya nggak mau lagi deh." ucapku. "Nggak mau lagi apa? Makan di sini?" jawabmu datar. "Bukan, aku nggak mau lagi ada di hubungan platonis yang dipaksakan." jawabku lirih sambil menyeruput air jeruk hangat yang kala itu entah kenapa tidak seperti biasanya, hambar. "Maksud kamu?" tanyamu lagi, kali ini dengan nada sedikit penasaran. "Mulai sekarang aku mau lebih jujur pada diriku sendiri. Jalani apa yang membuatku bahagia, dan jauhi apa yang membebaniku." "Memang, apa yang sebenarnya membuatmu bahagia?" kau mulai lagi dengan kebiasaanmu menginterogasi. "Aku mau jatuh cinta dengan sederhana, yang dari awal tidak dipaksakan, seperti Celine dan Jesse di Before Trilogy, dua orang asing yang dipertemukan secara tidak sengaja, kemudian bertukar pikiran dan siapa sangk...