Kontemplasi Diri
Akhir-akhir ini aku memulai pagi dengan gelisah. Lebih dari 5 menit kuhabiskan hanya dengan menatap kosong pintu kamar yang lampunya masih padam berharap di luar sana ada roket yang siap membawaku ke Mars sehingga hari ini akan terasa berbeda dari kemarin. Namun alih-alih roket, yang kulihat tetaplah tembok dengan cat krem agak pudar dan lampu gantung dengan debu yang kian tebal karena aku belum menemukan cara untuk menurunkan dan membersihkannya secara manusiawi. Atau lebih tepatnya, kemalasanku selalu menemukan cara untuk menundanya. Tidak lama kemudian matahari mulai bertandang dengan percaya diri, lalu ia seolah tertawa dengan teriknya dan mengejekku "masihkah kamu tidak berguna hari ini?" Jujur aku tidak peduli dengan matahari, biar kuserahkan ke langit dan awan mendung untuk membalas ledekannya padaku. Namun terkadang aku merasa apa yang dibilang matahari ada benarnya juga. Tiba-tiba pikiranku melayang pada beberapa tangkai bunga pukul 9 yang baru kutanam kemar...